Hujan jatuh di sela malam,
menyentuh kota yang kelelahan.
Lampu temaram memeluk jalan,
aku dan kamu duduk tanpa pertanyaan.
Ada jarak yang tak ingin dijelaskan,
ada tenang yang tak perlu alasan.
Di dekatmu, dunia melambat,
seolah waktu memilih untuk diam.
Dalam pelukanmu aku menemukan tenang,
seperti sunyi yang teraman.
Tak ada janji, tak ada rencana panjang,
hangatmu cukup, menutup semua lelah.
Kopi hangat mengisi jeda malam,
menjaga sunyi tetap bernapas.
Tak banyak kata yang kita lepaskan,
namun diam terasa paling jujur dan lepas.
Dalam pelukanmu aku menemukan tenang,
seperti sunyi yang teraman.
Tak ada janji, tak ada rencana panjang,
hangatmu cukup, menutup semua lelah.
Jika esok arah berubah perlahan,
biarlah malam ini tetap utuh dikenang.
Tak semua yang singgah ingin menetap,
sebagian hanya ingin menghangatkan.
Hujan reda tanpa isyarat,
kopi tersisa di dasar gelas.
Namun pelukanmu tinggal di ingatan,
tenang, sederhana, dan tak ingin lepas.
Tinggalkan Balasan